~~Aku mungkin tak
seperti orang yang kau kenal dulu. Aku mungkin tak seperti yang dulu. Terlebih
disaat setelah kau meninggalkanku tanpa memberikan alasan yang jelas. Aku
memang bukan orang yang gampang melupakan sesuatu yang dapat membuat hatiku
sedih. Meski aku tau tak seharusnya aku begini. Namun, sekali lagi aku bukanlah
orang yang gampang melupakan alasan kesedihanku. Dan kau tau, aku sangat sedih
ketika kau meninggalkanku. Dan sekarang kau berdiri dihadapanku. Datang tanpa
memberi aba- aba, meski aku tau kau akan datang. Mungkin jika kau memberitahuku
kapan kau akan datang, mungkin aku akan lebih bisa mempersiapkan semuanya,
terutama hatiku. Dan sekarang, apa yang bisa kulakukan ketika kau sudah
dihadapanku. Maaf jika aku hanya bisa terdiam memandangi kedatanganmu dan tak
berbuat apa- apa…~~
Pagi Minggu
ini terasa lebih dingin dari biasanya. Seperti hati Anya yang masih dingin
sampai detik ini. Hari ini Anya tidak kemana- mana. Ia sudah benar- benar
mengosongkan jadwal hari ini untuk beristirahat dirumah. Ia tidak ingin hari
libur nya kali ini diganggu dengan hal- hal yang bersangkutan dengan urusan
kuliahnya.
Pagi ini ia
sudah bangun, namun ia masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia
sengaja mematikan lampu kamarnya dan sekarang ia sedang memandang keluar
jendela. Sinar matahari pagi samar- samar masuk menelusuri kamar Anya yang
gelap. Dan ini adalah salah satu hal yang paling disukai Anya. Ia merasa ketika
itu ia bisa meluapkan segala kepedihan hatinya di satu momen itu. Rasanya ia
tidak ingin keluar dari kamarnya satu hari ini. Ia ingin meluapkan segala yang
dihatinya di kamar ini. Ia ingin sendiri. Namun sebelum ia melakukan
keinginannya itu, ia harus tetap melakukan kegiatan rumahannya sebelum ia
kembali lagi ke kerajaannya itu.
Di satu sisi
Australia, Nino sedang bersiap- siap untuk kembali ke Indonesia. Ini adalah
musim libur kuliahnya. Dan ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia sangat
rindu dengan Indonesia, terutama pada satu sosok gadis yang selalu diingatnya.
Tepat pukul 12 siang ia lepas landas dari Australia. Ia sudah tidak sabar untuk
sampai di tanah air dan bertemu dengan gadisnya itu. Sementara Anya, sekarang
ia sudah berada di kerajaannya. Ia sudah siap dengan kegiatan sendirinya. Ia
ingin meluapkan segalanya disini.
Tepat pukul
2 lewat 30 menit waktu Indonesia, Nino telah sampai di tanah airnya. Ia
menghirup udara Jakarta yang sangat khas. Ia merindukan ini. Sangat
merindukannya. Hampir 1,5 tahun di Australia membuatnya sangat merindukan ini
dan ingin melakukan banyak hal disini. Tak lama berselang, ia tiba- tiba ingat
apa yang akan dilakukannya pertama kali begitu sampai. Ia langsung menghubungi
Vina, sahabat Anya. Ia meminta Vina untuk menghubungi Anya dan mengajaknya
bertemu di danau sekitar taman kota. Ia mengatakan ingin memberi kejutan kepada
Anya, dan rencana itu berhasil. Vina menghubungi Anya dan berpura- pura
mengajaknya bertemu di danau pukul 4 sore hanya untuk sekedar menghilangkan
stress. Dan Anya menyetujui itu. Anya tidak mengetahui bahwa ini adalah rencana
Nino.
Tepat pukul
4 sore, Anya sampai di danau sekitar taman kota. Ia hanya berpakaian seadanya
saja, karena ia mengira ini hanya untuk menemani Vina. Ia hanya memakai celana
jeans biru dipadukan dengan kaus putihnya. Rambut panjangnya di kuncir ke atas.
Sekarang ia sedang berdiri di tepi danau sambil memandang luas kedepan. Hal
lain yang sangat disukai Anya. Ia mengatakan ini bisa menghilangkan stress dan
keresahan hatinya dikala ia sedang sedih.
Anya melihat
jam tangannya dan sudah setengah jam ia menunggu Vina disini. Namun sahabatnya
yang satu itu tak kunjung muncul. Sudah berkali- kali ia menghubungi Vina, tapi
handphonenya tak dapat dihubungi. Anya mulai kesal. Entah apa yang menyebabkan
Vina tak kunjung muncul. Sampai satu suara mengangetkannya..
Nino :
*berdiri dibelakang Anya* sedang menunggu siapa mbak??
Anya : ...
*kaget, balik badan, dan terdiam*
Nino :
*senyum* hai gadis bodoh, apa kabarmu??
Anya :
*tetap diam, tiba2 merasa sesak, genggam tangan kuat2, perlahan mundur
selangkah*
Nino :
*sadar dengan perubahan Anya, perlahan mendekati Anya* hai, kau apa kabar? Aku
kembali..
Anya :
*masih diam*
Nino: kau
terkejut dengan kedatanganku? *natap Anya muram, remas tali handbag yang
dibawanya*
Anya :
*masih diam, makin nahan sesak didadanya*
Nino : Maaf,
aku datang dengan cara seperti ini.. *pegang tangan Anya* Kau masih marah
padaku?
Anya :
*nunduk, tahan nangisnya*
~Haruskah
kau muncul disaat seperti ini? Haruskah kau muncul seperti ini? Dengan cara
ini? Mengapa dari dulu kau selalu menyebalkan? Selalu mengusiliku dengan
tingkah anehmu itu. Dari sejak aku belum mengenalmu sampai sekarang, kenapa
sifat itu tidak pernah berubah? Apa denganku saja kau begini? Dan sekarang kau
hadir, tepat dihadapanku, dengan cara seperti ini, disaat ini. Yah, kau kembali
sukses membuatku terpaku seperti ini, disini~
Nino : kau,
kenapa hanya diam? Bicaralah… *tiba- tiba peluk Anya*
Anya :
*kaget*
Nino : aku
merindukanmu… mengapa kau hanya diam? kalau kau diam begini, aku menyesal
pulang ke Indonesia. Aku pulang hanya karena ingin melihatmu…
Anya :
*nahan sesak* kau... kenapa seperti ini?
Nino : maaf,
aku hanya tidak ingin melihatmu sedih.. Itu saja
Anya :
*nahan tangisnya*
Nino : kau
apa kabar? Aku merindukanmu… *masih meluk Anya*
Anya : aku
tidak baik, buruk.
Nino :
*kaget* kenapa?
Anya :
*diam*
~tiba- tiba
handphone Anya berbunyi, menandakan ada sebuah panggilan masuk~
Anya :
*sadar, lepaskan pelukan Nino, sengaja angkat telpon depan Nino* Hhmm? Aku di taman, kenapa? Oohh.. Iya, besok saja
kerumah. Hhhmm.. Aku tunggu. Ya, aku pulang sekarang.. *tutup telponnya*
Nino :
*kaget karena dengar yang menelepon suara laki- laki* kenapa? Siapa yang
menelepon?
Anya :
*diam, hiraukan pertanyaan Nino* maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang.
Kau, pulanglah dulu kerumah. Orang tuamu pasti menunggumu… *beranjak pergi*
Nino :
*tahan tangan Anya* kau tidak baik kenapa?
Anya : aku
yakin, kau yang lebih tau jawabannya…
Nino : *hela
nafas berat* hhmm.. Ini untukmu *kasih handbag yang dibawanya ke tangan Anya*
aku harap kau menyukainya. Aku sengaja membelikannya untukmu.
Anya :
*terima handbag, lihat isi dalamya, sesuatu yang berwarna merah, seperti jaket*
terima kasih.. Seharusnya kau tidak perlu repot- repot membelikan ini untukku…
aku pulang dulu… *beranjak pergi*
Nino : aku
besok akan kerumahmu… *setengah berteriak, natap Anya muram* maaf, karena telah
membuatmu menjadi tidak baik. Apa sebegitukah dampak yang aku lakukan padamu?
Dan siapa laki- laki yang meneleponmu tadi? Apa aku sudah terlambat? Maaf Anya…
*nahan sakit di dadanya*
Dan akhirnya
mereka bertemu setelah hampir 1,5 tahun berpisah tanpa ada kata pamitan sekali
pun. Nino kembali. Dan Anya sekarang masuk dalam masa dimana ia harus kembali
seperti pada awalnya. Dan ini sangat sulit. Dan sekarang ia sedang berusaha
menemukan jiwanya yang seketika menghilang entah kemana setelah bertemu dengan
Nino sore tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar