Selasa, 21 Mei 2013

He’s back

~~Aku mungkin tak seperti orang yang kau kenal dulu. Aku mungkin tak seperti yang dulu. Terlebih disaat setelah kau meninggalkanku tanpa memberikan alasan yang jelas. Aku memang bukan orang yang gampang melupakan sesuatu yang dapat membuat hatiku sedih. Meski aku tau tak seharusnya aku begini. Namun, sekali lagi aku bukanlah orang yang gampang melupakan alasan kesedihanku. Dan kau tau, aku sangat sedih ketika kau meninggalkanku. Dan sekarang kau berdiri dihadapanku. Datang tanpa memberi aba- aba, meski aku tau kau akan datang. Mungkin jika kau memberitahuku kapan kau akan datang, mungkin aku akan lebih bisa mempersiapkan semuanya, terutama hatiku. Dan sekarang, apa yang bisa kulakukan ketika kau sudah dihadapanku. Maaf jika aku hanya bisa terdiam memandangi kedatanganmu dan tak berbuat apa- apa…~~

Pagi Minggu ini terasa lebih dingin dari biasanya. Seperti hati Anya yang masih dingin sampai detik ini. Hari ini Anya tidak kemana- mana. Ia sudah benar- benar mengosongkan jadwal hari ini untuk beristirahat dirumah. Ia tidak ingin hari libur nya kali ini diganggu dengan hal- hal yang bersangkutan dengan urusan kuliahnya.

Pagi ini ia sudah bangun, namun ia masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya. Ia sengaja mematikan lampu kamarnya dan sekarang ia sedang memandang keluar jendela. Sinar matahari pagi samar- samar masuk menelusuri kamar Anya yang gelap. Dan ini adalah salah satu hal yang paling disukai Anya. Ia merasa ketika itu ia bisa meluapkan segala kepedihan hatinya di satu momen itu. Rasanya ia tidak ingin keluar dari kamarnya satu hari ini. Ia ingin meluapkan segala yang dihatinya di kamar ini. Ia ingin sendiri. Namun sebelum ia melakukan keinginannya itu, ia harus tetap melakukan kegiatan rumahannya sebelum ia kembali lagi ke kerajaannya itu. 

Di satu sisi Australia, Nino sedang bersiap- siap untuk kembali ke Indonesia. Ini adalah musim libur kuliahnya. Dan ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia sangat rindu dengan Indonesia, terutama pada satu sosok gadis yang selalu diingatnya. Tepat pukul 12 siang ia lepas landas dari Australia. Ia sudah tidak sabar untuk sampai di tanah air dan bertemu dengan gadisnya itu. Sementara Anya, sekarang ia sudah berada di kerajaannya. Ia sudah siap dengan kegiatan sendirinya. Ia ingin meluapkan segalanya disini.

Tepat pukul 2 lewat 30 menit waktu Indonesia, Nino telah sampai di tanah airnya. Ia menghirup udara Jakarta yang sangat khas. Ia merindukan ini. Sangat merindukannya. Hampir 1,5 tahun di Australia membuatnya sangat merindukan ini dan ingin melakukan banyak hal disini. Tak lama berselang, ia tiba- tiba ingat apa yang akan dilakukannya pertama kali begitu sampai. Ia langsung menghubungi Vina, sahabat Anya. Ia meminta Vina untuk menghubungi Anya dan mengajaknya bertemu di danau sekitar taman kota. Ia mengatakan ingin memberi kejutan kepada Anya, dan rencana itu berhasil. Vina menghubungi Anya dan berpura- pura mengajaknya bertemu di danau pukul 4 sore hanya untuk sekedar menghilangkan stress. Dan Anya menyetujui itu. Anya tidak mengetahui bahwa ini adalah rencana Nino.

Tepat pukul 4 sore, Anya sampai di danau sekitar taman kota. Ia hanya berpakaian seadanya saja, karena ia mengira ini hanya untuk menemani Vina. Ia hanya memakai celana jeans biru dipadukan dengan kaus putihnya. Rambut panjangnya di kuncir ke atas. Sekarang ia sedang berdiri di tepi danau sambil memandang luas kedepan. Hal lain yang sangat disukai Anya. Ia mengatakan ini bisa menghilangkan stress dan keresahan hatinya dikala ia sedang sedih.

Anya melihat jam tangannya dan sudah setengah jam ia menunggu Vina disini. Namun sahabatnya yang satu itu tak kunjung muncul. Sudah berkali- kali ia menghubungi Vina, tapi handphonenya tak dapat dihubungi. Anya mulai kesal. Entah apa yang menyebabkan Vina tak kunjung muncul. Sampai satu suara mengangetkannya..

Nino : *berdiri dibelakang Anya* sedang menunggu siapa mbak??

Anya : ... *kaget, balik badan, dan terdiam*

Nino : *senyum* hai gadis bodoh, apa kabarmu??

Anya : *tetap diam, tiba2 merasa sesak, genggam tangan kuat2, perlahan mundur selangkah*

Nino : *sadar dengan perubahan Anya, perlahan mendekati Anya* hai, kau apa kabar? Aku kembali..

Anya : *masih diam*

Nino: kau terkejut dengan kedatanganku? *natap Anya muram, remas tali handbag yang dibawanya*

Anya : *masih diam, makin nahan sesak didadanya*

Nino : Maaf, aku datang dengan cara seperti ini.. *pegang tangan Anya* Kau masih marah padaku? 

Anya : *nunduk, tahan nangisnya*

~Haruskah kau muncul disaat seperti ini? Haruskah kau muncul seperti ini? Dengan cara ini? Mengapa dari dulu kau selalu menyebalkan? Selalu mengusiliku dengan tingkah anehmu itu. Dari sejak aku belum mengenalmu sampai sekarang, kenapa sifat itu tidak pernah berubah? Apa denganku saja kau begini? Dan sekarang kau hadir, tepat dihadapanku, dengan cara seperti ini, disaat ini. Yah, kau kembali sukses membuatku terpaku seperti ini, disini~

Nino : kau, kenapa hanya diam? Bicaralah… *tiba- tiba peluk Anya*

Anya : *kaget*

Nino : aku merindukanmu… mengapa kau hanya diam? kalau kau diam begini, aku menyesal pulang ke Indonesia. Aku pulang hanya karena ingin melihatmu…

Anya : *nahan sesak* kau... kenapa seperti ini?

Nino : maaf, aku hanya tidak ingin melihatmu sedih.. Itu saja

Anya : *nahan tangisnya*

Nino : kau apa kabar? Aku merindukanmu… *masih meluk Anya*

Anya : aku tidak baik, buruk.

Nino : *kaget* kenapa?

Anya : *diam*

~tiba- tiba handphone Anya berbunyi, menandakan ada sebuah panggilan masuk~

Anya : *sadar, lepaskan pelukan Nino, sengaja angkat telpon depan Nino* Hhmm?  Aku di taman, kenapa? Oohh.. Iya, besok saja kerumah. Hhhmm.. Aku tunggu. Ya, aku pulang sekarang.. *tutup telponnya*

Nino : *kaget karena dengar yang menelepon suara laki- laki* kenapa? Siapa yang menelepon?

Anya : *diam, hiraukan pertanyaan Nino* maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang. Kau, pulanglah dulu kerumah. Orang tuamu pasti menunggumu… *beranjak pergi*

Nino : *tahan tangan Anya* kau tidak baik kenapa?

Anya : aku yakin, kau yang lebih tau jawabannya…

Nino : *hela nafas berat* hhmm.. Ini untukmu *kasih handbag yang dibawanya ke tangan Anya* aku harap kau menyukainya. Aku sengaja membelikannya untukmu.

Anya : *terima handbag, lihat isi dalamya, sesuatu yang berwarna merah, seperti jaket* terima kasih.. Seharusnya kau tidak perlu repot- repot membelikan ini untukku… aku pulang dulu… *beranjak pergi*

Nino : aku besok akan kerumahmu… *setengah berteriak, natap Anya muram* maaf, karena telah membuatmu menjadi tidak baik. Apa sebegitukah dampak yang aku lakukan padamu? Dan siapa laki- laki yang meneleponmu tadi? Apa aku sudah terlambat? Maaf Anya… *nahan sakit di dadanya*

Dan akhirnya mereka bertemu setelah hampir 1,5 tahun berpisah tanpa ada kata pamitan sekali pun. Nino kembali. Dan Anya sekarang masuk dalam masa dimana ia harus kembali seperti pada awalnya. Dan ini sangat sulit. Dan sekarang ia sedang berusaha menemukan jiwanya yang seketika menghilang entah kemana setelah bertemu dengan Nino sore tadi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar